the last night with

Aku masih terngiang pertanyaanmu saat makan malam itu. Kau bertanya dengan bercanda apakah aku siap menjadi pendamping seseorang sepertimu. Aku membayangkan, seandainya kau bertanya dengan lebih serius satu kalimat singkat seperti di film romantis: “will u marry me?” tetapi kau bercanda, dan aku pun menjawabnya tanpa serius.
Dan saat kita di dalam cinema 21. Aku masih mengingat belaian tanganmu di punggung tanganku, menenangkan saat adegan film itu menakutkanku. Dan saat aku menyembunyikan pandanganku di punggungmu. Saat kau tersenyum mengusap rambutku. Dalam hati aku tersenyum, ternyata film horor itu begitu indah.
Aku masih selalu terkenang malam itu. Saat kita di pinggiran pantai, membiarkan angin malam menyeruak masuk lewat jendela mobil yang terbuka. Seharusnya dingin, tapi terasa hangat. Saat kita berbagi mimpi tentang masa depan, impianmu, impianku, tetapi itu bukan impian kita. Terlambat kusadar, impianku terlalu besar sehingga tak ada tempatmu disitu. Dan kau pasti sadar itu.
Seandainya aku tau itu malam terakhir kita bersama. Aku tidak akan mengajakmu buru-buru pulang karena malam yang semakin larut. Menolak permintaanmu tinggal lebih lama lagi. Seandainya aku tahu, aku pasti akan menghabiskan selama mungkin saat itu bersamamu. Tetapi sayangnya, aku tidak pernah tahu.
(Sekarang semua hanya seandainya. Seandainya malam itu, aku mengatakan aku mau bersamamu, bukan hanya malam ini tapi selamanya. Seandainya……….)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s